Mengenal Lebih dalam Net Zero Emissions

Istilah Net Zero Emissions atau nol emisi karbon akhir-akhir ini semakin popular kembali. Meskipun istilah ini telah ada sejak 2008, namun istilah Net Zero Emissions kali ini semakin mendapatkan perhatian yang khusus. Dimana hal ini terlihat dari berbagai atensi lebih dalam berbagai kesempatan. Dalam gelaran Konferensi Tingkat Tinggi Iklim yang diselenggarakan di Paris pada tahun 2015 menyebutkan bahwa setiap Negara industri  dan Negara-negara maju diwajibkan dapat mencapai nol-bersih emisi pada tahun 2050.

Jika melihat lebih dalam pengertiannya, Net zero emissions atau nol emisi karbon merupakan kondisi dimana jumlah emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer tidak melebihi jumlah emisi yang mampu diserap oleh bumi. Dimana dalam proses pencapaiannya, diperlukan sebuah transisi dari sistem energi yang digunakan saat ini ke sistem energi yang lebih bersih untuk mencapai kondisi seimbang antara aktivitas manusia dengan keseimbangan alam yang ada di Bumi.

Salah satu faktor penting yang perlu menjadi perhatian dalam mencapai target ini adalah mengurangi jumlah emisi karbon atau gas emisi yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia pada kurun waktu tertentu. Hal ini biasa kita sebut atau lebih sering dikenal dengan istilah jejak karbon. Jejak karbon yang di hasilkan oleh aktivitas manusia ini tentu akan memberikan dampak dan akibat yang negatif bagi kehidupan di bumi. Dampak-dampak tersebut antara lain seperti kekeringan, cuaca ekstrim, bencana alam, berkurangnya sumber air bersih, perubahan produksi rantai makanan serta berbagai kerusakan alam lainnya.

Pengertian Net Zero Emissions

Program Net Zero Emissions atau biasa disingkat NZE ini merupakan kelanjutan dari Perjanjian Paris pada tahun 2015 yang bertujuan untuk menekan serta memperbaiki kondisi pencemaran lingkungan yang berpotensi menyebabkan pemanasan global yang berdampak pada peningkatan suhu panas bumi. Sebagai sebuah upaya yang membutuhkan berbagai dukungan untuk mencapai target tersebut, Pada akhir bulan April 2021 Climate Leader’s Summit yang digagas Presiden Joe Biden kian membuat istilah ini populer. Dimana dalam kesempatan tersebut sejumlah negara menyampaikan komitmen mereka mencapai nol-bersih emisi pada 2050. 

Dalam pengertian lebih lanjut, Net Zero Emissions sebenarnya tidak mengacu pada pengertian bahwa manusia berhenti menghasilkan emisi karbon. Secara alamiah, manusia sebagai bagian dari dunia tentu tidak bisa tak memproduksi emisi. Dalam aktivitasnya, manusia bernapas saja sudah menghasilkan karbon dioksida (CO2). Jika dikalikan jumlah manusia sebanyak 7,8 miliar, emisi karbon dari napas manusia berkontribusi menyumbang emisi karbon sebesar 5,8% terhadap volume emisi karbon tahunan.

Karena itu, Pengertian Net Zero Emissions atau nol-bersih emisi adalah karbon netral. Artinya, emisi yang diproduksi oleh manusia dapat diserap sepenuhnya oleh ekosistem di bumi sehingga tidak ada yang menguap hingga ke atmosfer yang dapat menjadi efek gas rumah kaca. Berbagai negara di dunia juga telah mengeluarkan regulasi-regulasi baru dalam hal penyediaan energi listrik yang disesuaikan dengan program Net Zero Emissions, termasuk di Indonesia.

Penyerapan Emisi Karbon

Lantas, Apa yang bisa menyerap emisi karbon? Secara alamiah, emisi terserap oleh pohon, laut dan tanah. Melalui reaksi kimia yang kompleks, pohon, perairan, dan tanah dapat berfungsi sebagai penyerap emisi karbon dalam proses siklus fotosintesis. Karbon dioksida yang bercampur dengan zat dan gas lain ini kemudian akan membentuk reaksi kimia yang melepaskan karbon dan oksigen. Oksigen ini kemudian akan dibutuhkan untuk kebutuhan mahluk hidup. Dan karbon, disini akan diperlukan untuk tanaman tumbuh hingga proses pemenuhan kebutuhan ekonomi sebagai bahan dasar logam. 

Mengapa penyerapan karbon penting? Penyebab utama pemanasan global adalah naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Disini, hal ini disebut dengan pemanasan global. Ada enam gas rumah kaca yang memiliki koefisien pemanasan global tinggi. Meski karbon dioksida jumlahnya paling banyak di atmosfer, ia paling rendah menyebabkan kenaikan suhu bumi. 

Emisi Karbon sendiri merupakan gas yang banyak dihasilkan dari kegiatan manusia. seperti migas, pertambangan mineral, termasuk juga aktivitas pertanian dan peternakan. Karbon sendiri terdiri dalam beberapa bentuk, yaitu Carbon Dioksida (CO2), Carbon Monoksida (CO) dan juga gas Methane (CH4). Karbon yang dibuang ke udara bebas akan menjadi penyebab terjadinya perubahan iklim yang ada di bumi. 

Dampak dari emisi karbon yang berlebihan adalah perubahan iklim yang dapat terjadi di belahan bumi. Salah satu efek negatif dari perubahan iklim ini adalah naiknya rata-rata suhu bumi beberapa derajat. Hal ini tentu akan dapat menyebabkan es yang ada di di kutub utara dan kutub selatan mencair. Dengan cairnya es ini, garis pantai akan berubah dan banyak pulau akan terancam tenggelam.

Upaya dalam Mencapai Net Zero Emissions

Kembali pada pembahasan sebelumnya, Lantas apakah jika emisi bersih pemanasan global tidak akan terjadi? Jawabannya tentu tetap akan terjadi. Hal ini disebabkan dari karbon dioksida di atmosfer akan bertahan selama kurun waktu 10.000 tahun. Artinya, jika pada 2050 seluruh negara dapat menyerap seluruh emisi yang mereka produksi, sehingga tak satu gram pun emisi naik ke atmosfer, bumi akan tetap menghangat karena emisi yang kita produksi hari ini dan selama tiga abad terakhir.

Para ahli di IPCC berhitung, suhu akan bertambah stabil sebesar 0,30 Celsius per tahun dibanding masa praindustri 1800 jika dunia berhasil mewujudkan Net Zero Emissions. Ini berarti bahwa suhu akan bertambah sebesar 1,5C setelah tahun 2050. Kenaikan suhu ini masih bisa ditoleransi oleh mahluk hidup di bumi, terutama manusia. Hal ini karena mengingat usia matahari yang akan memancar selama 10 miliar tahun, umur bumi sendiri masih tersisa 5,5 miliar tahun. Baru separuh jalan, sementara usia manusia belum sampai 2 juta tahun.

Di Indonesia sendiri, upaya untuk mengurangi jejak karbon dan mencapai kondisi net zero emissions, pemerintah menerapkan lima prinsip utama, yaitu, Peningkatkan pemanfaatan enerrgi baru terbarukan (EBT); pengurangan energi fosil; penggunaan kendaraan listrik di sektor transportasi; peningkatan pemanfaatan listrik pada rumah tangga dan industri; dan yang terakhir adalah pemanfaatan Carbon Capture and Storage (CCS). Harapannya, dengan mengurangi jejak karbon dan berkomitmen dalam menjalan lima prinsip utama di atas, Indonesia dapat mencapai kondisi net zero emissions di tahun 2060.

Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi emisi karbon dapat dimulai dengan mengurangi penggunaan listrik yang dihasilkan dari batu bara dan gas. Hal ini berarti bahwa kita bisa membantu mewujudkan net zero emissions melalui pemanfaatan sumber energi terbarukan seperti matahari dan angin dengan memanfaatkan Pembangkit listrik tenaga surya melalui panel surya untuk memenuhi kebutuhan sumber listrik Anda.

Pemanfaatan energi surya sebagai sumber listrik memiliki kelebihan yang sangat ramah lingkungan. Hal ini terbukti dari proses pendapatan energi tanpa menggangu maupun merusak alam. Karena Anda dapat memperoleh energi ini langsung, bahkan dari rumah Anda sendiri. Dalam operasionalnya, energi ini sangat ramah lingkungan serta merupakan wujud implementasi dari merawat bumi yang semakin hari semakin mengalami pemanasan global.

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

More Posts

Instalasi Panel Surya

Ketika Anda berminat untuk menggunakan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), maka ada beberapa hal yang Anda perhatikan