Rencana Indonesia Ekspor Listrik ke Singapura

Indonesia berencana melakukan ekspor listrik ke negara tetangga. Menteri ESDM Indonesia, Arifin Tasrif, menyatakan komitmen Indonesia untuk mendorong negara-negara ASEAN dalam pencarian sumber EBT untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Salah satu negara yang membutuhkan tambahan pasokan energi listrik adalah Singapura.

Singapura mengalami krisis energi akibat peningkatan permintaan. Selain itu, kenaikan tajam harga gas alam akibat gangguan pada pasokan juga menjadi faktor utamanya. Kondisi tersebut disebabkan gangguan impor gas dari pipa gas West Natuna RI dan rendahnya pasokan gas di Sumatera Selatan. Saat ini, 60% pasokan gas di Singapura memang berasal dari Indonesia. Mengingat 95% penggunaan listrik di Singapura berasal dari gas alam, hal ini pun membuat Singapura cukup kewalahan. 

Menteri Perdagangan dan Industri Singapura, Gan Kim Yong, menyatakan bahwa negaranya sudah berkomitmen untuk menjadi negara rendah karbon. Untuk mewujudkan hal ini, Singapura akan beralih dari penggunaan energi fosil menjadi energi baru terbarukan.

Rencana memasok 100 MW listrik ke Singapura

Demi memenuhi kebutuhan energi listrik yang mencapai 4 gigawatt (GW), Singapura berencana mengimpor energi listrik dari negara-negara tetangganya, salah satunya Indonesia. Impor energi listrik Singapura akan mencakup sekitar 35% pasokan listrik negara tersebut, termasuk Indonesia yang berencana akan memasok 100 megawatt (MW) listrik tenaga surya pada 2024.

Menteri ESDM berharap ekspor listrik Indonesia ke Singapura mampu mencapai aspek ketersediaan, keterjangkauan, aksesibilitas, dan keberlanjutan energi beserta teknologi, bantuan keuangan, dan perluasan kapasitas melalui kerja sama dengan Singapura. Beliau juga mengharapkan pengembangan energi baru terbarukan ini bisa ikut mendorong kebangkitan industri panel surya dalam negeri.

Selain bekerja sama dengan Indonesia, Singapura juga bekerja sama dengan negara lainnya untuk mengimpor listrik ke negaranya, salah satunya Malaysia. Singapura akan melakukan uji coba pertama impor listrik dari Malaysia sebesar 100 MW. 

Pasokan listrik diambil dari proyek PLTS di Pulau Bulan

Untuk mewujudkan rencana ekspor listrik ini, perusahaan Indonesia bekerja sama dengan Singapura dalam membangun tiga proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Pulau Bulan, berlokasi 2,5 km dari Kota Batam. Di area seluas 1.000 hektare tersebut, akan dibangun tiga pembangkit listrik tenaga surya dengan kesepakatan yang sudah ditandatangani di Singapore International Energy Week pada 25 Oktober 2021.

Beberapa perusahaan Indonesia yang membangun proyek tersebut adalah PT Trisurya Mitra Bersama, PLN Batam, dan Sembcorp Industries. Proyek kedua dibangun berdasarkan kesepakatan antara Medco Power Energy dengan dua perusahaan Singapura, Singapura Gallant Venture Ltd dan PacificLight Energy Pte Ltd. Sedangkan proyek ketiga merupakan proyek yang dipegang oleh Sunseap dan pengembang Grup Agung Sedayu.

Sudah direncanakan sejak beberapa tahun lalu

Presiden Direktur Medco Energi International, Hilmi Panigoro, menjelaskan bahwa proyek rencana ekspor listrik tenaga surya dari Pulau Bulan sudah berjalan selama tiga tahun. Setelah melakukan berbagai kajian dan mendapatkan komitmen pembelian dari Energy Market Authority untuk menyuplai energi listrik ke Singapura, Medco akhirnya memulai proyek tersebut dan sedang dalam tahap untuk merealisasikannya.

Proyek ekspor listrik dari Indonesia ke negara tetangga sendiri sudah dibicarakan sejak 15 tahun lalu dengan Malaysia melalui penandatanganan kesepakatan memasok listrik antara PLN dengan Tenaga Nasional Berhad (TNB) Malaysia. Ekspor listrik ini terjadi karena adanya perbedaan beban listrik di jalur Sumatera dan Malaysia.

Ekspor listrik memungkinkan karena Indonesia kelebihan pasokan listrik

Salah satu alasan yang membuat Indonesia mampu mengekspor listrik ke Singapura adalah karena Indonesia kelebihan pasokan listrik sebesar 40%. Hal ini disebabkan karena adanya kekeliruan antara perencanaan dan pembangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt. Pembangkit listrik ini dibangun berdasarkan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata 7% per tahun, sedangkan realisasinya hanya 5%. Sementara itu, permintaan listrik di Indonesia tumbuh 4%.

Melalui proyek ekspor listrik ke Singapura dan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya di Pulau Bulan, langkah pemerintah dalam meningkatkan industri panel surya terlihat sangat jelas. Untuk itu, sudah saatnya Anda sebagai warga Indonesia mulai meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Salah satunya bisa dengan menggunakan panel surya sebagai sumber energi listrik di rumah Anda.

Jika Anda bingung bagaimana memilih panel surya terbaik, SolarKita akan menjadi solusi untuk Anda. Solarkita menyediakan sistem panel surya atap dengan layanan jangka panjang yang konsisten. Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut tentang layanan SolarKita!

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

More Posts