Pemerintah Indonesia Kebut Pengembangan PLTS Atap demi Capai Target Bauran EBT

PLTS Atap menjadi salah satu program prioritas Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) untuk mencapai target bauran energi baru terbarukan (EBT). Pemerintah menargetkan bauran EBT mencapai 23% pada 2025 dan meningkat hingga 30% pada 2030. Selama beberapa tahun terakhir ini, capaian bauran EBT sendiri mengalami peningkatan.

Pada 2015, bauran EBT mencapai 4,97%, kemudian naik menjadi 6,13% pada 2016, terus naik hingga 6,67% pada 2018, 9,18% pada 2019, dan 11,20% pada 2020. Sayangnya, memasuki kuartal III tahun 2021, capaian bauran EBT menurun menjadi 10,9%. Penyebabnya adalah karena penggunaan energi fosil mengalami peningkatan pada 2021.

Untuk menggenjot bauran EBT agar bisa mencapai target awal, Kementerian ESDM melalui Rencana Strategis Energi Listrik menjadikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai program prioritas. Beberapa proyek sudah mulai berjalan. Salah satunya adalah proyek PLTS Terapung Cirata.

PLTS Terapung sendiri masuk dalam RUPTL PLN 2021-2030, bahwa semua waduk, danau, dan bendungan di Pulau Jawa masuk bagian rencana penyediaan listrik melalui PLTS Terapung dengan potensi sekitar 1.900 MW. Lalu, bagaimana dengan PLTS Atap?

PLTS Atap sebetulnya tidak masuk RUPTL PLN 2021-2030

PLTS merupakan jenis EBT yang ideal dan realistis untuk Indonesia. Berada di garis khatulistiwa, Indonesia mendapat sinar matahari sepanjang tahun. Selain itu, menurut Kementerian ESDM, studi kelayakan untuk membangun PLTS pun tidak terlalu kompleks, terutama untuk PLTS Atap. Ini karena PLTS Atap sendiri tidak perlu penyewaan lahan sehingga investasi yang diperlukan pun tidak terlalu besar.

Jika melihat Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021-2030, pengembangan PLTS Atap tidak termasuk di dalamnya. Meski begitu, pemerintah tetap berupaya mengembangkan PLTS Atap agar dapat mencapai target kapasitas 3,6 GW. Jika target tersebut terpenuhi, maka konsumsi energi fosil diprediksi akan turun hingga 3 juta ton/tahun.

Kapasitas terpasang PLTS Atap hampir mencapai 40 MWp per September 2021

Perkembangan PLTS Atap memang terbukti menjanjikan. Pada Juli 2021, jumlah penggunanya telah mencapai 4.028 pelanggan dengan capaian kapasitas 35 MWp (Megawatt peak). Jumlah tersebut terus meningkat hingga September 2021, dengan capaian kapasitas total hampir mencapai 40 MWp.

Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan. Jika dibandingkan dengan periode sebelum terbitnya Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 Tahun 2018 tentang Penggunaan Sistem PLTS Atap oleh Konsumen, total pertumbuhannya bahkan mencapai 561,4%.

Sebagai langkah lanjutan, Kementerian ESDM menargetkan pemasangan PLTS Atap hingga 3,6 GW dari total potensi sebesar 32 GW untuk tahun 2024 nanti. Wilayah yang menjadi target adalah kota-kota besar Pulau Jawa dan juga daerah industri, terutama pengguna listrik nonsubsidi dengan daya 2.200 VA atau lebih besar.

PLTS dipastikan akan jadi tulang punggung pengembangan EBT

Pemanfaatan EBT dalam skala masif sering kali menemui beberapa hambatan. Salah satunya berkaitan dengan sifat intermitensi EBT. Intermitensi berarti ketidakmampuan untuk memproduksi energi secara konsisten setiap saat. Hal ini pun berlaku pada PLTS.

Namun, dengan berbagai riset, akhirnya ditemukan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Untuk mengatasi intermitensi PLTS, bisa dilakukan kombinasi penyimpanan. Solusi ini telah diterapkan pada PLTS Terapung Cirata. Saat matahari tenggelam, sistem pembangkit lisrik akan diambil alih oleh energi kinetik air.

Dengan ditemukannya solusi tersebut, PLTS diprediksi akan menjadi tulang punggung pengembangan EBT. Di samping itu, beberapa poin revisi Peraturan Menteri ESDM Nomor 49 Tahun 2018 juga mendorong agar pemanfaatan PLTS Atap semakin masif. Salah satunya adalah persetujuan untuk melakukan perdagangan karbon bagi pelanggan PLTS Atap.

Diimbangi dengan percepatan pengembangan BBN dan PLTU

PLTS tidak berjalan sendiri dalam upaya peningkatan bauran EBT. Selain PLTS Atap, program prioritas Ditjen EBTKE lainnya adalah pengembangan pembangkit listrik dan Bahan Bakar Nabati (BBN) serta program co-firing biomassa pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

Untuk program akselerasi EBT, pemanfaatan BBN kemudian dikombinasikan dengan biodiesel. Sedangkan program co-firing PLTU melakukan substitusi batu bara secara bertahap. Proses co-firing PLTU mulanya mengandalkan 100% batu bara, tapi kini sebagian batu bara diganti dengan biomassa berupa pelet sampah.

Penurunan capaian target bauran EBT bukanlah suatu hal yang harus terus disesali. Sebaliknya, momentum ini harus dijadikan pemicu agar terus menciptakan situasi yang kondusif untuk pengembangan EBT.

Ingin menjadi bagian dari akselerasi pengembangan EBT? SolarKita siap membantu Anda. Melalui layanan pemasangan panel surya SolarKita, Anda telah meningkatkan angka pemanfaatan PLTS Atap di Indonesia. Klik di sini untuk konsultasi dengan tim SolarKita!

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

More Posts

Regulasi Pemanfaatan PLTS Atap di Indonesia

Regulasi PLTS Atap melalui peraturan yang diterbitukan pemerintah merupakan upaya serta dukungan dalam mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan yang ramah lingkungan dengan biaya yang lebih murah.

Suhu Bumi Semakin Panas, Apa yang Bisa kita Lakukan?

Kenaikan suhu Bumi semakin panas ini berada di atas tingkat peningkatan suhu setelah pra-era industri. Dimana rata-rata suhu global mengalami kenaikan yang lebih tinggi, yaitu sebesar 1 derajat Celsius jika dibandingkan suhu tahunan sebelumnya.