Pemerintah Andalkan Panas Bumi dan Surya untuk Kembangkan Hidrogen Hijau

Hidrogen hijau menjadi perhatian pemerintah Indonesia untuk mengembangkan energi baru terbarukan. Di samping itu, potensi panas bumi dan surya di Indonesia yang tinggi menjadi harapan baru dalam produksi hidrogen hijau dengan memanfaatkan energi surya. Apa saja keunggulan dari hidrogen hijau ini dan bagaimana pengembangannya saat ini? Simak ulasannya dalam artikel berikut ini.

Keunggulan Hidrogen Hijau

Hidrogen hijau memiliki berbagai keunggulan yang membuatnya menjadi ‘pemain baru’ untuk sumber energi terbarukan pengganti energi fosil. Selain karena lebih ramah lingkungan, pangsa pasarnya pun semakin terbuka lebar.

Pemerintah dapat menggalakkan program edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan hidrogen hijau sebagai bahan bakar untuk transportasi maupun sektor industri. Beberapa negara di dunia seperti Jepang dan Singapura mulai mengembangkan energi dari hidrogen hijau dan keduanya tengah mempersiapkan diri sebagai pemain dominan di dunia untuk pemanfaatan energi ini. Bukan tak mungkin Indonesia bisa menjadi salah satu pemain besar di sektor ini pada masa depan.

Pengembangannya di Indonesia

Sebenarnya, pengembangan hidrogen hijau di Indonesia memiliki potensi yang cukup baik. Selain didukung potensi panas bumi yang cukup tinggi, diperlukan pula inovasi dari perusahaan-perusahaan bidang energi untuk bersama-sama mengembangkan energi tersebut.

Adapun opsi yang bisa dilakukan oleh pemerintah adalah memaksimalkan tenaga surya untuk memproduksi hidrogen hijau. Ini bisa dilakukan di daerah-daerah Indonesia di bagian timur, yang mana daerah tersebut memiliki tingkat penyerapan energi matahari cukup tinggi seperti di Nusa Tenggara Timur.

Selanjutnya, pemerintah akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berskala besar. Kemudian, sumber energi listriknya disalurkan lewat kabel untuk bisa memproduksi hidrogen hijau. Meski begitu, diperlukan infrastruktur yang baik maupun sumber daya manusia yang siap untuk mengelola penggunaan hidrogen hijau.

Memang, hal itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Akan tetapi, bukan berarti negara kita tidak bisa memanfaatkan potensi panas bumi dan surya dalam memproduksi hidrogen hijau sebagai komoditas energi ramah lingkungan dan bernilai tinggi.

Pertamina Pertimbangkan Hidrogen Hijau

Tidak hanya pemerintah, PT Pertamina (Persero) selaku perusahaan milik negara yang bergerak di bidang energi juga tertarik mengembangkan hidrogen hijau untuk penerapan konsep ekonomi hijau dan berkelanjutan. Hal itu bukan tanpa alasan, sebab pada 2020 lalu konsumsi energi hidrogen mencapai 2,5 metrik ton dalam sehari. Di sisi lain, potensi pasarnya cukup besar hingga 40 miliar Dolar AS.

Untuk menjalankan konsep ekonomi ramah lingkungan dengan menggunakan hidrogen hijau, Pertamina pun melakukan berbagai persiapan. Salah satunya adalah menganggarkan Rp115 triliun atau 8 miliar dollar AS untuk investasi. Investasi tersebut berupa berupa pengembangan dan pembangunan pembangkit listrik, gas, mapun energi terbarukan dalam kurun waktu 2020-2024.

Pertamina juga mengalokasikan setidaknya 9% anggaran belanja modalnya untuk pengembangan energi terbarukan. Angka tersebut cukup tinggi bila dibandingkan dengan pemain global lain yang hanya mengalokasikan sekitar 4%. Besarnya pengalokasian ini juga merupakan bentuk komitmen utama Pertamina dalam mengembangkan bisnis yang ramah lingkungan.

Proyek Pertama di Indonesia

Tidak hanya sekadar mengalokasikan anggaran perusahaan untuk pengembangan energi, Pertamina melalui Pertamina Geothermal Energy juga menguji coba program energi ini di wilayah kerja panas bumi (WKP) Ulubelu yang ada di daerah Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. WKP ini juga menjadi pusat riset pengembangan energi bersih dan ramah lingkungan.

Pembangunan WKP di Ulubelu dipilih karena adanya energi panas bumi yang tinggi dan potensial. Misalnya saja untuk fluida panas yang didominasi oleh air dan juga uap bersuhu panas. Itulah yang menjadi pertimbangan untuk mengembangkan energi hidrogen hijau di sini.

Pengujian dan pengembangan hidrogen hijau akan terus dilakukan oleh pihak Pertamina Geothermal Energy, khususnya dalam pemenuhan produksi listrik di berbagai daerah di tanah air. Sebagai catatan, Pertamina Geothermal Energy telah memproduksi listrik hingga 4.618 GigaWatt Hour pada 2020 lalu, yang berasal dari 15 kawasan atau wilayah kerja panas bumi di Indonesia.
Dari ulasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hidrogen hijau merupakan sumber energi terbarukan yang potensial di masa mendatang, terlebih di Indonesia kaya akan sumber mineral dan kondisi cuaca yang mendukung. Anda juga bisa memulai menerapkan energi terbarukan di rumah. Salah satunya dengan memasang panel surya dari SolarKita untuk pemenuhan energi listrik rumah Anda.

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

More Posts