7 Kota di Dunia yang Terancam Tenggelam Akibat Pemanasan Global

Akibat pemanasan global, sejumlah kota di dunia terancam akan tenggelam dalam hitungan tahun. Salah satunya kota-kota yang berada di kawasan Asia. Wilayah Asia yang memiliki penduduk terpadat di dunia ini dikatakan mampu memberi tekanan pada sumber air serta menambah polusi dari pembakaran batu bara dan bahan bakar biomassa yang meluas. Itulah sebabnya kota-kota berikut dianggap cepat tenggelam bahkan sudah diprediksi waktunya. Mari kita simak daftar lengkapnya.

Jakarta

Berdasarkan hasil laporan Konsultan risiko Verisk Maplecroft, Jakarta menjadi kota paling rentan di dunia terhadap risiko akibat pemanasan global. Jakarta yang berpenduduk 10 juta orang mengalami kenaikan permukaan laut dan penurunan tanah yang disebabkan oleh menipisnya akuifer alami di bawah kota karena masyarakat suka memompa air keluar dari tanah untuk minum dan mencuci.

Hal ini tak disangka malah menjadikan Jakarta sebagai kota yang diramal paling cepat tenggelam di dunia, didukung dengan fakta banjir yang sudah sering terjadi. Kota metropolitan ini diperkirakan akan tenggelam pada 2050.

Lagos

Negara bagian Lagos yang terletak di Nigeria juga diprediksi cepat tenggelam akibat pemanasan global yang membuat permukaan air laut meningkat. Dalam waktu 50 tahun ke depan, diprediksikan bahwa 1/3 daratan Nigeria akan terendam oleh air laut. Ini termasuk juga negara bagian Lagos. Tentunya berita ini sangat mengkhawatirkan, apalagi mengingat Lagos dan seluruh Nigeria sempat dilanda krisis air bersih. 

Venice

Selain Jakarta dan Lagos, Venice juga menjadi salah satu kota yang mengalami penurunan permukaan tanah sebanyak 0,08 inci setiap tahun. Meski angka tersebut terbilang kecil, dalam kurun waktu satu abad, Venesia diprediksi akan mengalami penurunan permukaan tanah sebanyak 8 inci atau setara dengan 20 cm.

Untuk mengatasi hal ini, pemerintah Italia sempat membangun dinding penghalang banjir. Dinding ini dibuat sejak 2003 dan seharusnya sudah selesai pada tahun 2011. Sayangya proyek ini mengalami kemunduran hingga tahun 2022. Akibatnya, Venesia masih mengalami banjir terparah yang terjadi pada 2018 dan membuat sebagian besar kota tergenang air setinggi lutut manusia.

Shanghai

Kota Shanghai di Tiongkok memang dipenuhi dengan gedung-gedung tinggi dan megah layaknya Jakarta. Sayangnya, ini juga menjadi pemicu utama mengapa permukaan tanah di Shanghai terus turun. Menurut laporan EcoWatch, Shanghai mengalami penurunan 1 cm per tahun karena ekstraksi air tanah yang berlebihan. Bahkan, penurunan akan semakin parah karena sungai-sungai dibendung dan menyebabkan hilangnya sedimen alami. 

Bangkok

Sama seperti negara tetangga lainhya di kawasan Asia Tenggara, kota Bangkok di Thailand juga mengalami penurunan permukaan tanah akibat air laut yang terus meningkat. Berdasarkan laporan dari Interesting Engineering, permukaan tanah Bangkok turun sebanyak 2 cm per tahun. Diperkirakan, Bangkok akan berada di bawah air laut di tahun 2030, alias kurang dari 1 dekade lagi.

Houston

Beranjak ke luar Asia, di Amerika Serikat, Kota Houston yang berada di negara bagian Texas mengalami kenaikan air laut 2 inci per tahun akibat pemompaan air tanah yang berlebihan. Data dari US Geological Survey juga dengan jelas menyebutkan bahwa Houston telah direndam air laut 10-12 inci (25-30 cm), bahkan lebih tinggi sejak tahun 1920-an.

Berdasarkan penelitian, Houston tak akan bisa pulih kecuali masyarakatnya berhenti memompa air tanah secara berlebihan. Jika dilakukan secara terus-menerus, permukaan tanah Houston akan terus turun karena kota ini bergantung pada akuifer yang menghasilkan air untuk rumah, pertanian, dan industri. 

Dhaka

Kembali ke Asia, kota Dhaka di Bangladesh yang tak jauh dari Indonesia juga menghadapi ancaman tenggelam akibat permukaan air laut yang meningkat. Air laut bisa membanjiri 17 persen daratan di Bangladesh, termasuk Dhaka, kota seluas 306,4 kmĀ² ini. Bahkan, di tahun 2050 tenggelamnya kota Dhaka diperkirakan akan berdampak pada 18 juta penduduk Bangladesh.

Bangladesh membangun sistem peringatan berupa tempat berlindung dari badai, kemudian tanaman yang tahan dengan garam hingga membuat dinding penahan sejauh 5.700 kilometer untuk melindungi lahan pertanian dari genangan yang meluap dari laut. Hal ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi Bangladesh.Itulah sejumlah kota di dunia yang diprediksi akan segera tenggelam salah satunya akibat pemanasan global dan pemakaian air yang berlebihan. Karenanya, sudah jadi kewajiban kita sebagai penduduk Indonesia untuk menghindari prediksi ini. Saatnya untuk memulai gaya hidup ramah lingkungan. Anda bisa memulainya dengan pemanfaatan panel surya dari SolarKita. Klik di sini untuk berkonsultasi dengan tim kami perihal kebutuhan panel surya di rumah Anda.

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

More Posts

Ekspor Listrik PLTS Atap, Listrik Menjadi Semakin Murah

Aturan tentang ekspor listrik PLTS Atap 100% ini tertuang dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 26 Tahun 2021 tentang PLTS Atap yang Terhubung Pada Jaringan Tenaga Listrik Pemegang Izin Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Umum (IUPTLU).