Stop Buang Makanan, Begini Dampak Buruk Limbah Makanan Bagi Lingkungan

Kebiasaan tidak menghabiskan makanan mungkin terlihat sepele, namun ternyata dampaknya bisa begitu signifikan. Setiap tahunnya, setiap orang di Indonesia menghasilkan sekitar 300 kg limbah makanan. Total sampah makanan di Indonesia mencapai angka 13 juta ton per tahun, setara dengan makanan yang dapat dikonsumsi oleh 28 juta orang.

Setiap makanan yang kita konsumsi itu dihasilkan dengan menggunakan energi, bahan bakar, dan air. Masing-masing proses produksi melepaskan gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Semakin banyak makanan yang dibuang, semakin besar pula dampak buruknya terhadap lingkungan. Berikut beberapa di antaranya!

Bentuk Pemborosan Air Bersih

Air sangat penting untuk kehidupan, tidak terkecuali untuk produksi pangan. Membuang jutaan ton makanan sama artinya dengan membuang jutaan galon air yang tak terhitung jumlahnya yang digunakan untuk menanam, menumbuhkan, mempertahankan, atau memproduksi makanan tersebut.

Buah dan sayuran adalah salah satu produk makanan yang paling banyak membutuhkan air dalam proses penanamannya. Selain itu, produk daging juga menghabiskan air dalam jumlah sangat besar untuk konsumsi hewan ternak serta menanam rumput. 

Jika ada sekitar 1,3 miliar ton makanan yang terbuang di seluruh dunia setiap tahun, maka sebanyak 45 triliun galon atau 24% dari semua air yang digunakan untuk pertanian terbuang sia-sia. Ini tentu saja merupakan bentuk pemborosan air bersih yang sangat disayangkan dan merugikan.

Menghasilkan Efek Gas Rumah Kaca

Makanan yang dibuang akan berakhir ke tempat pembuangan sampah. Selain bisa menjadi masalah besar lain bagi lingkungan, limbah makanan yang membusuk di tempat pembuangan sampah akan melepaskan gas metana.

Metana adalah gas rumah kaca yang berdampak buruk pada iklim dan suhu Bumi karena menyebabkan perubahan iklim atau pemanasan global. Jutaan ton makanan yang terbuang di tempat pembuangan sampah di Indonesia harus menjadi perhatian Anda karena:

  • Metana lebih efektif dalam memerangkap panas di atmosfer daripada CO2, sekitar 25 kali lebih efektif.
  • Metana menyumbang sekitar 20% dari emisi gas rumah kaca.
  • Banyak metana serta gas-gas merugikan lainnya yang telah dilepaskan dalam proses produksi. Makanan yang terbuang menambah jumlah gas-gas yang merugikan tersebut.
  • Lebih sedikit makanan yang terbuang berarti melepaskan lebih sedikit gas metana yang berdampak positif bagi lingkungan.

Merusak Lahan yang Bisa Dimanfaatkan

Tata guna lahan untuk pangan terbagi dalam dua kategori utama, yaitu lahan yang digunakan untuk produksi (menanam atau beternak) dan lahan yang digunakan untuk menyimpan pangan yang telah dibuang. Oleh karena itu, membuang makanan berdampak buruk pada fisik tanah itu sendiri.

Sebagian besar makanan yang terbuang di seluruh dunia, terlepas dari jenis tanahnya, adalah daging. Sekitar 900 juta hektar lahan non-garapan digunakan dalam produksi daging dunia.

Masalah utamanya terletak pada pemborosan makanan yang membuat tanah yang digunakan untuk menghasilkan makanan tersebut sia-sia. Belum lagi ada faktor degradasi tanah seiring waktu jika tidak dirawat. Akhirnya, lahan akan menghasilkan jauh lebih sedikit produk pangan daripada yang dibutuhkan masyarakat.

Membuat Ekosistem Kurang Seimbang

Limbah makanan dapat menghancurkan keanekaragaman hayati dan membuat ekosistem kurang seimbang dalam beberapa cara:

  • Deforestasi yang merusak flora dan fauna alami untuk menciptakan lebih banyak lahan untuk produksi pangan.
  • Untuk meningkatkan produksi ternak, lahan alami diubah menjadi padang rumput yang selain menyebabkan deforestasi, juga berdampak pada keanekaragaman hayati .
  • Perikanan laut adalah penyebab besar dalam penipisan ekosistem laut dan habitat alami yang sering mengakibatkan daerah atau stok “tereksploitasi berlebihan.” Ikan ditangkap tanpa memperhatikan tentang bagaimana penipisan populasi yang cepat akan berdampak pada lingkungan mereka. Ikan ini kemudian dibuang oleh konsumen, sehingga memengaruhi ekosistem.

Menyiakan Minyak Bumi

Limbah makanan dapat menyiakan minyak bumi karena:

  • Bahan bakar fosil diperlukan untuk menanam, mengangkut, menyimpan, dan memasak makanan. Ini termasuk mesin pemanen yang harus ditenagai, kendaraan untuk distribusi hasil pangan, serta mesin yang digunakan untuk menyortir, membersihkan, mengemas, dan menyiapkan makanan untuk dijual. Sebagian besar mesin ini membutuhkan bahan bakar dalam jumlah besar.
  • Penggunaan bahan bakar dapat melepaskan sejumlah gas rumah kaca yang berbahaya ke lingkungan. Jumlahnya semakin besar jika dikombinasikan dengan jumlah yang dilepaskan dari limbah makanan yang membusuk di tempat pembuangan sampah, ditambah lagi dengan semua makanan yang akan dibuang di masa depan.

Besarnya dampak buruk limbah makanan yang sudah dijelaskan di atas membuat semua orang harus lebih perhatian terhadap lingkungan dengan tidak membuang makanan. Pastikan untuk tidak belanja berlebihan agar tidak ada bahan makanan terbuang, membuat rencana belanja, atau menggunakan freezer untuk menyimpan bahan makanan lebih lama.

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

More Posts

Cara Kerja Sistem PLTS Atap

Banyak masyarakan yang ingin menggunakan sistem PLTS namun masih belum mengetahui tentang bagaimana cara kerja sistem PLTS Atap

Pentingnya Memakai Energi Alternatif

Energi Alternatif adalah semua energi yang bertujuan untuk menggantikan bahan bakar konvensional. Energi alternatif ini juga biasa disebut dengan istilah energi terbarukan.