Hebat! Indonesia Resmi Punya PLTS Terapung Terbesar di Asia Tenggara

Pemerintah Indonesia semakin menyadari pentingnya energi terbarukan di masa mendatang. Hal itu ditandai dengan target yang dicanangkan cukup ambisius, yakni 23% energi terbarukan di tahun 2025. Target tersebut bukanlah isapan jempol belaka. Buktinya, hingga tahun 2019 lalu, target yang sudah dicapai sebesar 8%. Indonesia juga gencar melakukan kerjasama dengan negara lain. Salah satunya adalah pada proyek pembangunan PLTS terapung yang ada di Cirata, Jawa Barat.  

Hasil kerja sama dengan UEA

Proyek pembangunan PLTS terapung Cirata merupakan hasil dari kerjasama dengan perusahaan asal Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Masdar dengan PT Pembangkit Jawa Bali (PT.PJB). Kerjasama tersebut ditandatangani tanggal 12 Januari 2020 lalu di Abu Dhabi.

Nilai investasi dari proyek ini mencapai angka US$129 juta dengan harga jual beli listrik yang telah disepakati sebesar US¢5.82 untuk hitungan per kWh. Selain nilai proyek yang besar, waduk ini bakalan dibangun di atas lahan hampir 240 hektare dan target konstruksi yang ditetapkan selama 16 bulan.

Terbesar se-Asia Tenggara

Proyek kerjasama dengan negara Uni Emirat Arab ini digadang-gadang menjadi PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara. Dari segi kapasitas pun tidak main-main, yakni 145 MW. Kapasitas itu bahkan lebih besar dari PLTS Cadiz Solar Powerplant yang ada di Filipina dengan kapasitas 132,5 MW. Ditargetkan PTS terapung Cirata dapat dioperasikan secara komersial tahun 2022 mendatang. Harapannya agar PLTS terapung Cirata dapat memasok energi listrik terbarukan dan ramah lingkungan di Pulau Jawa.

Sebelumnya negara kita sudah memiliki bifacial di Danau Mahoni, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. PLTS ini mampu menghasilkan energi listrik sebesar 10.000–13.000 WP. Kemudian, ada juga panel surya terbesar di Sulawesi Utara. Tepatnya di Desa Wineru, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara dengan luas sekitar 29 hektare dan mampu menghasilkan tenaga listrik 15 mw.

Kelebihan pembangunan PLTS terapung

Keunggulan dari PLTS terapung memang dinilai lebih ramah lingkungan dan memberikan efek positif bagi masyarakat. Selain itu, PLTS terapung dapat menekan biaya bagi pemerintah dalam membangun energi baru terbarukan. Tidak perlu akuisisi lahan yang dapat menelan biaya yang tidak sedikit. Prosesnya hanyalah menggunakan lahan yang memiliki air yang belum dimanfaatkan dengan baik.

Selain itu, manfaat berikutnya menyangkut daya yang dihasilkan dari PLTS terapung lebih besar bila dibandingkan dengan PLTS di darat. Kemudian, juga bisa mengurangi tingkat evaporasi sehingga akan berdampak positif pada PLTA.

Sementara itu, Indonesia sendiri juga memiliki potensi besar terhadap pembangunan PLTA terapung ini, mengingat saat ini di Indonesia memiliki banyak waduk. Bisa Anda bayangkan jika terdapat sekitar 5% saja waduk yang dapat dimanfaatkan, maka terdapat potensi energi sebesar 4.300 MWP atau setara dengan 4,3 giga watt untuk keperluan masyarakat.

PLTS terapung Cirata dapat menghasilkan daya sebesar 250 GWH per tahunnya dan terhubung pada gardu induk bertegangan ekstra tinggi 150 KV yang ada di daerah sekitar waduk. Potensi ini diprediksi bisa menghasilkan daya hingga 1.428 GWH per tahunnya.

Kelanjutan proyek EBT di Indonesia

Menindaklanjuti kerjasama dalam proyek energi terbarukan, Indonesia dan negara-negara kawasan teluk memiliki perkembangan yang pesat. Kedua belah pihak memiliki visi yang sama dalam jangka panjang yakni mengenai kelestarian lingkungan yang harus tetap terjaga. 

Di samping itu, baik Indonesia maupun negara teluk, memiliki potensi besar mengembangkan energi dari alam seperti potensi tenaga surya. Bahkan, di Indonesia sendiri berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan bahwa potensi tenaga surya di Indonesia sendiri mencapai 207,8 GW.

Pada tahun-tahun sebelumnya, tepatnya di tahun 2015, Indonesia yang diwakili oleh perusahaan Pertamina menandatangani MoU dengan Kuwait dalam hal kerjasama energi terbarukan. Tahun 2020 lalu, Musdar yang merupakan perusahaan energi terbarukan asal Uni Emirat Arab melakukan penandatanganan perjanjian kerjasama dengan PT. Pembangkit Jawa Bali (PJB) yang merupakan anak perusahaan PLN. Kerjasama tersebut difokuskan pada pengembangan PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara.
Dengan gencarnya kerjasama dalam bidang energi terbarukan yang dilakukan oleh Indonesia dengan negara-negara di dunia, diharapkan memberikan terobosan baru bagi penerapan energi yang ramah lingkungan. Anda pun tidak boleh ketinggalan.

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin

More Posts